Habitat Pomacea canaliculata

Keong murbei mampu tinggal dan bertahan hidup pada berbagai ekosistem mulai dari rawa-rawa, parit dan tanah pada danau dan sungai. Hampir sebagian besar keong Pomacea senang pada perairan lentic dibawah arus air (sungai). Keong mas hidup di alam yang dapat mendukung keperluan hidupnya terutama perairan tawar yang menggenang, pada substrat berlumpur, perairan yang jernih, yang banyak ditumbuhi tanaman air dan adanya pergantian air secara terus menerus (Prashad, 1925; Pennak, 1978). Keong mas dapat hidup di perairan tawar baik di daerah tropis maupun subtropics dan sebagian besar menetap di perairan dangkal dengan kedalaman tiga meter (Hyman, 1967; Pennak, 1978).

Keong Pomacea seperti hewan amphibi yang selalu membenamkan diri dalam air sepanjang hari, dan sembunyi pada tanaman yang berada di dekat permukaan air. Keong ini aktif pada malam hari dan meninggalkan air untuk mencari tanaman segar. Tingkat keaktifan keong ini sangat tergantung pada suhu perairan. Pada suhu 18°C mereka berusaha keras untuk bergerak hal ni berlawanan dengan suhu yang lebih tinggi yaitu 25°C. Meskipun begitu Pomacea canaliculata lebih tahan terhadap suhu rendah bila dibandingkan dengan jenis keong Pomacea lainnya.

Sulistiono (2007) menambahkan, bahwa moluska jenis ini hidup di perairan jernih, bersubstrat lumpur dengan tumbuhan air yang melimpah. Menyukai tempat-tempat yang aliran airnya lambat, drainase tidak baik dan tidak cepat kering. Keong mas dapat bertahan hidup sampai 6 bulan di dalam tanah yang mengalami kekeringan. Hewan ini dapat hidup pada air yang memiliki pH 5-8, serta toleransi suhu antara 18-28 derajat Celsius. Pada suhu lebih tinggi, keong mas makan lebih cepat, bergerak lebih cepat, dan tumbuh lebih cepat. Pada suhu yang lebih rendah, keong mas masuk ke dalam lumpur dan menjadi tidak aktif. Pada suhu di atas 32 derajat Celcius, hewan ini memiliki tingkat mortalitas yang tinggi.

Pomacea canaliculata diperkenalkan sebagai keong asli dari Amerika Selatan hingga sampai ke Asia Tenggara sekitar tahun 1980, sebagai sumber daya makan lokal dan makanan yang cukup potensial untuk di eksport. Permintaan pasar yang tidak terbentuk, dibarengi dengan pertumbuhan keong mas yang sangat cepat menyebabkan keong ini menjadi hama padi yang serius terutama pada beberapa negara di Asia Tenggara. Keong mas dapat menyebar secara cepat mulai dari area pertanian hingga lahan-lahan basah dan berbagai sistem perairan alami sehingga membawa dampak yang serius. Kondisi ini berdampak negatif yang dapat merusak vegetasi alami perairan sehingga menyebabkan perubahan habitat yang serius. Kemampuan berkompetisi yang baik dengan fauna perairan asli, termasuk keong setempat. Kehadiran Pomacea canaliculata menyebabkan penurunan keong Pila sebagai keong asli Asia Tenggara (Joshi, 2005) .

Gambar 1. Habitat keong mas, rawa-rawa dan  sawah, keong mas sebagai hama padi

Refleks kombinasi insang dan paru-paru merupakan cara adaptasi keon terhadap kandungan oksigen yang miskin dalam perairan sekalipun pada rawa dan perairan dangkal. Kandungan oksigen yang rendah akibat penguraian bahan organic seperti pembusukan tanaman serta peningkatan suhu. Paru-paru pada keong terbukti sangat bermanfaat untuk bertahan hidup pada kondisi yang sulit. Keong mas mampu hidup di perairan dengan kandungan oksigen terlarutnya mendekati nol (Hatimah dan Ismail, 1989). Disebutkan juga bahwa pada kondisi perairan dengan kandungan oksigen terlarut nol keong mas masih dapat hidup.

Operculum atau kombinasi paru-paru menambah periode kemampuan untuk bertahan hidup pada musim kering tidak hanya dalam rawa dan tanah-tanah di musim panas. Keong membenamkan diri dalam substrat dan mengurangi metabolismenya sampai masa itu berakhir. Hampir semua keong jenis ini memerlukan kondisi shu sub tropis. Spesies Ampullarriidae tidak ada yang mampu bertahan pada suhu dibawah 10°C seperti musim hujan.

Pernafasan bukan satu-tunya fungsi dari paru-paru, namun juga mampu membuat keong menyesuaikan diri dengan mengapung. Tanpa paru-paru yang terisi udara, pergerakan yang lambat dibawah air pada keong tidak akan terjadi. Berat cangkang akan membuat keong tenggelam ke dasar perairan seperti batu. Ketika kandungan oksigen dalam air menurun drastic dan keong harus menggunakan pernafasan langsung dari udara maka keong akan mulai mengapung secara perlahan ke permukaan air.

Gambar 2. Keong mas menggunakan siphon untuk mengambil oksigen langsung dari udara di permukaan air

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s