Pemijahan Pomacea canaliculata

Ketika keong mas kawin, keong jantan mendekati betina dari arah belakang dan merayap pada cangkangnya. Ketika jantan dapat mencapai gelung terakhir di bagian depan cangkang betina, jantan menjaga lubang betina dengan memegang betina menggunakan penial sheat dan memasukkan lapisan tipis yang menyerupai penis pada saluran genital betina. Perkawinan keong tetap pada posisi ini selama masa kopulasi; antara tiga jam sampai sepanjang hari. Total waktu kopulasi bervariasi diantara spesies; 1-3 jam pada Pomacea haustrum dan 1-6 jam pada Marisa cornuarietis. Selama kopulasi keong jantan menarik kepalanya dibawah cangkang, sementara keong betina tetap bergerak mengelilingi dan sering kali dilanjutkan dengan makan. Keong jantan tetap diam ketika perkawinan dan tidak kehilangan pegangan meskipun pasangan meninggalkan air. Keong betina dapat menyimpan sperma yang aktif selama sebulan dalam saluran genital betina yang memungkinkan keong betina bereproduksi walaupun tidak bertemu dengan keong jantan beberapa bulan setelahnya.

Gambar 1. Proses pemijahan pada keong mas Pomacea sp; (a) keong jantan berusaha mendapatkan keong betina (b) perkawinan keong mas, jantan disebelah kiri memasukkan penisnya pada betina, (c) penis sheat dimasukkan ke keong betina, (d) pada kondisi normal penis sheat disimpan didalam rongga mantel, tapi kadang-kadang disimpan diluar dan dapat dilihat.

Spesies keong mas dari jenis Pila dan Pomacea menyimpan telur-telurnya diatas permukaan air. Mereka membawa sarang telur ke dalam alur ovipositor melewati badan keong. Alur peletakan diatas bagian kaki yang membengkak yang dibentuk melalui pemompaan jaringan bawah dengan cairan. Akibatnya struktur ovipositor terlihat sebagai suatu kepingan yang semi transparan pada tubuh keong. tidak semua keong mas memiliki struktur ovipositor yang sama dalam penyimpanan telurnya. Satu dari spesies yang memiliki struktur ovipositor yang nampak adalah Pomacea bridgesii.

Gambar 2. (a) keong mas yang sedang mengeluarkan telurnya (b) telur yang belum lama dikeluarkan (c) telur yang dikeluarkan setelah 7 hari (d) telur yang telah menetas

FAO (1989) menyatakan bahwa keong mas berkembang biak dengan bertelur dan pembuahan terjadi di dalam tubuh. Kopulasi terjadi setiap saat tanpa mengenal musim dimana penyediaan air terus tersedia. Keong mas (Pomacea sp) kawin pada malam hari selama kurang lebih tujuh sampai delapan jam, dua hari kemudian setelah kawin keong mas akan bertelur. Telur-telur ditempelkan pada tempat yang kering berupa gumpalan-gumpalan telur, keong mas bertelur ditempat yang kering kurang lebih 5 – 10 cm diatas permukaan air, dan tinggi peletakan telur keong mas tidak dipengaruhi jumlah telur dalam gumpalan (Hatima dan Ismail, 1989). Proses bertelur berlangsung sekitar lima jam dan telur akan menetas setelah 12 – 15 hari (Sihombing, 1999), sedangkan menurut Marwoto (1988) adalah 8 – 10 hari.

Menurut Marwoto (1988), jumlah telur yang dikeluarkan oleh induk keong mas dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Keong mas yang hidup pada alam terbuka (kolam) cenderung mengeluarkan telur yang lebih banyak dari pada keong mas yang ditempatkan di akuarium. Telur yang dihasilkan oleh keong mas (Pomacea canaliculata) berjumlah 84 – 400 butir jika bertelur diakuarium dan lebih dari 700 butir jika keong mas hidup serta bertelur dialam terbuka (kolam). Telur-telur tersebut diletakkan lebih kurang 20 cm diatas permukaan air. Dalam setiap bulannya keong mas dapa menghasilkan 4 – 10 kelompok telur. Noordin (1992) menyatakan bahwa tinggi peletakan telur berkisar antara 5 – 41 cm dengan jumlah telur tiap gumpalan berkisar antara 127 – 1.812 butir.

Warna telur yang merah muda hingga kemerahan yang menempel pada tampak kontras dengan tanaman hijau yang terendam air. Ini membuat telur-telur kelihatan tidak mencolok untuk predator dari jarak yang agak jauh. Perasaan nyaman dari ketidaktertarikan hewan lain untuk memangsa telur-telur keong mas, membuat keong mas meninggalkan telur-telurnya setelah dikeluarkan, bahkan ikan atau hewan lain yang telah mencoba memakan, akan mengeluarkannya kembali.

Hal lain yang menarik dari ketidak enakan rasa telur untuk dimangsa merupakan kebiasaan makan dari limpkin pada keong mas. Limpkins memakan keong mas betina dengan albumen yolk gland yang sedang berkembang, tapi mereka melepas organ ini sebelum memakannya. Pengeluaran albumen gland juga dilakukan oleh ikan yang memakannya. Ini menunjukkan bahwa substansi pada kuning telur, bukan pada porsi yang sesuai karena ketidak enakan telur keong mas.  Selain dari ketidak enakan rasa, beberapa keong mas memilih untuk menyimpan telurnya pada tanaman yang tertutup, sehingga lebih sulit untuk ditemukan oleh pemangsa. Ada juga jenis keong mas lain yang mengkamuflasekan warna telurnya menyerupai tempat menempel untuk menghindari predator. Ada juga beberapa jenis yang memanfaatkan lendir untuk melindungi telurnya. Beberapa telur lainnya dierami pada kondisi inkubasi dalam operculum induknya, dengan masa istirahat selama musim kering. Keong muda yang telah menetas didalam cangkang induknya dan bergerak lamban disekeliling induknya saat musim hujan tiba.

Rata-rata setiap 30 detik telur baru muncul ditambah dengan semakin berkembangnya sarang elur. Disamping transport telur dari saluran genital kearah massa telur, kaki juga menjaga telur yang baru keluar berbarengan dan menentukan bentuk dari sarang telur. Selama pengeluaran telur, keong berjalan mundur secara perlahan dan setelah selesai mengeluarkan telurnya maka akan kembali menjatuhkan diri ke air. Total waktu yang dibutuhkan untuk menyimpan telur-telur dalam sarang bervariasi 1 hingga 6 jam. Ketika keong betina meninggalkan air untuk menempelkan telurnya, dia sdar akan lingkungan sekitarnya dan mengesampingkan gangguan yang menyebabkan dia jatuh kembali ke air. Telur-telur pertama kali dikeluarkan halus dan memiliki warna keputihan seperti susu hingga orange pucat tergantung dari spesiesnya. Kepastan warna telur terbentuk ketika telur mengering dan mengeras pada waktu hari pertama. Selama perkembangan telur, warna akan berubah secara perlahan menjadi lebih pucat dan lebih putih, sebelum telur menetas hampir seluruhnya berwarna putih dengan bintik gelap (keong muda)

Gambar 3. Keong mas induk dengan benih yang sudah menetas

DAFTAR PUSTAKA

 Andrews, E.B. 1964. The Functional Anatomy and Histology of The Reproductive System of some Pilid Gastropod Molluscs. Proceeding of The Malacological Society of London. Vol.36. Blackwell Scientific Publications. Oxford. London.

Anonym. Ecology. http://www.apllesnail.net

Anonym. Reproduction System. http://www.apllesnail.net

Anonym. Sensory System. http://www.apllesnail.net

Berry, A.J. 1974. The Anatomy at Malaysian Snail of Parasitology Significance. Malay Nat.

Brahmanandam, V.L and R.V. Krishnamoorthy. 1973. Hemochemistry and Hematology of Aestivating pond snail Pila globosa Veliger 24.16(2) : 176 – 180

Esetebet, A.L and Martin, P.R. 2002. Pomacea canaliculata (Gastropoda: Ampularidae): Life History Traits and Their Plasticity. Mini Review. Workshop: Biology of Ampularidae. Biocell 26(1); 83 – 89

Hatimah S.W dan Ismail. 1989. Penelitian Pendahuluan Budidaya Siput Emas (Pomacea sp) Buletin Penelitian Perikanan Darat. Vol.8 No.1 Balai penelitian Perikanan Air Tawar. Bogor.

Hyman, L.H. 1967. The Invertebrates. Vol.6. Mc-Grawhill Book Company. New York.

Joshi, R.C. 2005. Managing invasive alien mollusc species in rice. Mini Review. International Rice Research Notes. International Rice Research Institute. Desember.

Joshi RC, MS Dela Cruz, AR Martin, JC Cabbigat, RF Bahatan, AD Bahatan, J Choy-Awon, NP Chilagan, and AB Cayong. 2001. Current status of golden apple snail in the Ifugao Rice Terraces, Philippines. Journal of Sustainable Agriculture, USA. (in press)

Krupanidhi, S. M. Venugopal Reddy, V. Venleata Reddy & Padmanabha Naidhu. 1978. Purified Haemocyanin in The Blood of Fresh Water Amphibius Snail Pila globosa (Swainson) in relation to Aestivation. Proc. Indian Acad. Sci.

Lamarck. 1819. Pomacea canaliculata. http://www.apllesnail.net

Maclary, Andrew. 1965. Surface Inspiration and Ciliary Feeding in Pomacea paludosa (Prosobranchia): Mesogastropoda: Ampularidae. Malacolagia 2 (1).

Mardyanti. H. 1990. Keong Emas yang Kaya Protein. Sinar Tani. No. 1963

Meenakshi V.R. 1956. Physiology of Hibernation of The Apple Snail Pila virent (lamarck). Current Science 25 (10).

Marwoto, R.M. 1988. The Occurrence Inspiratin of Freshwater Snail Pomacea sp In Indonesia. Treubia. Vol. 29 No.4

Murthy C.H, J. Pavan Kumar, K.S. Babu, Karumuri S.S. 1979. On The Possible Significance of Anhanced Glutamate Dehydrogenase Activity in Normal and Aestivated Pila globosa. The Velliger Vol. 4

Noordin, H. 1992. Studi Pertumbuhan dan Aspek Reproduksi Siput Murbei (Pomacea sp). Skripsi. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pennak, R.W. 1978. Fresh Water Invertebrates of The Unied States. Second Edition. John Wiley an Sons. New York. Chichester. Brisbane. Toronto.

Pitojo, S. 1996. Petunjuk Pengendalian dan Pemanfaatan Keong MAs. Penerbit Trubus Agriwidya. Ungaran

Prashad, B. 1925. Anatomy of The Common Apple Snail P.globosa. Memoir of The Inian Museum.

Purchon, R.D. 1978. The Biology of Mollusca. Pergamon Press. Oxford. New York. Toronto. Sydney. Paris.

Riani E. 1992. Beberapa Aspek Biologi Keong Murbei (Pomacea sp). Thesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Santos, E.J. 1987. The Golden Apple Snail; Food and Farm Pest. Agribusiness Weekly. Oktober.

Sihombing, D.T.H. 1999. Satwa Harapan I, Pengantar Ilmu dan Teknologi Budidaya, Cetakan Pertama, Penerbit Pustaka Wirausaha Muda, Bogor

Soenarjo, E. Panuju dan M. Syam. 1989. Budidaya Keong Mas dan Kemungkinan Dampaknya terhadap Budidaya Tanaman Padi. Laporan Hasil Peninjauan di Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.

Sulistio.2006. Keong Mas Si Lelet Perusak Padi. Pikiran Rakyat Edisi Cetak Kamis, 19 April 2007.

Sumarni. 1989. Golden Shell, Keong Baru Penghuni Akuarium. Trubus no. 240. Th. XX. November. Yayasan Tani Membangun. Jakarta.

Suwarman, P. 1989. Budidaya Keong Emas. Media Mina. No.17. Juli 1989.

Takeda, N. 2000. Development of a Penis from The Vestigial Penis in The Female Apple Snail, Pomacea canaliculata. Bio Bull 199: 316 – 320

Wilbur K.L. and Gareth Owen. 1966. Growth. In C.M. Younge and Karl M Wilbur, ed. Physiology of Mollusca. Mc. Graw Hill. New York.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s